Apakah ini air mata

yang menguap jadi abu?

Karena ku terhanyut

dalam pusaran debu tentangmu

 

Apakah?

Advertisements

Luka

Tuliskan luka di atas pasir, katamu

Biar pergi seiring hembus

Tapi kau lupa,

pasirnya basah oleh hujan air mata

 

: Kuputuskan untuk mengkristalkan luka

Karena sama seperti bahagia,

ia juga akan menjadi jejak-jejak kita

 

: Pedih

Terlambat

Gemintang sudah lama tinggalkan bulan

Layaknya matari senja yang memburam

Saat kau kembali

 

Siapakah tahu kau menanti?

Siapakah tahu kau mematri janji?

Usai jalanmu jalannya yang

dulunya bersisian

Memutuskan untuk

berganti haluan?

 

Ia pernah bisikkan senandung namamu

Mengecup mesra bayang-bayang wajahmu

Tapi tidak lagi

 

Ia pernah berkawan malam-malam sendu

Lirih mengeja makna sebuah kata:

Kehilangan

Tapi tidak lagi

 

Maka kini kau lihatlah

Gadismu sudah lama pergi

Tinggalkan dermaga cinta kalian

yang baru setengah jadi:

Jangan kau kembali

Mantra

Tak adakah mantra ajaib
Agar kau tahu tanpa kuucap?
Tak sediakah sihir agar sekejap
Kau mengerti tanpa kuperjelas?
Sungguh ini malam yang berat
Sebab kutelusur sakit karena merangkai kata
Dan kau masih terus bertanya kenapa

Raut Muka Cinta

Aku tahu pasti akan merindu
Saat-saat hening lensa buram milik kita
Betapapun remeh sampai aku bisa tertawa
Kau tetap datang dengan raut muka cinta
Karenanya aku tetap menunggu dering khusus telepon
Milikmu

Dan saat kukenang semua sebab hati menjauh
Aku tahu segalanya hanya di permukaan
Entah tapi aku tahu denganmu
Takkan mengenal kata perih

Bagaimana setiap awal selalu bertemu akhir
Hanya kau yang tahu
Bahkan ketika aku berpikir kini
Kau ingatkan tentang janji masa depan

Betapa hidup harus terus berjalan
Seperih apapun langkah-langkah duri
Tapi kuberharap satu yang tak lekang
Senyum dan raut muka cinta
Yang tergambar di wajahmu

Maaf, Cinta

Selalu ada menit-menit bisu
Entah pikirku pikirmu
Setelahnya setiap kata keluar dengan tatih
Dengan sandung dengan saruk

Dan untuk setiap yang terlintas
Kupaksa untuk selalu berkata
Walau dengan hati paling gerimis

Sebelum dan sesudah tak pernah sama
Menunggu jawaban ketuk buku-buku jariku
Sampai saat tak pernah terpikir tentang terima
Tolonglah, aku sudah hampir jatuh

Lama kau mulai bicara tentang
Duniamu duniaku yang
Sudah sama sekali berbeda
Bahkan sebelum kau meminta
Sejak awal aku tahu
Pasti selalu bisa memberimu
Maaf, Cinta

Mencari Arti

Kau tahu
Mencari tak pernah semelelahkan ini
Kutanya padamu semua yang kubisa
Kau cuma bilang aku kurang usaha

Kau kira ketika kusibak setiap ilalang
Dan cuma ranggas kutemukan
Aku bahagia?
Tidak

Kau pikir ketika kuburai dan kususun kembali
Jerami-jerami tua milik ayah
Apa yang kudapat?
Nihil

Dan ketika kususuri tepian sungai abadi
Setiap senja datang ke kampung kita
Kau bahkan tak menoleh
Sibuk bicara tentang ini dan itu

Lalu saat ku mulai bercerita tentang negeri-negeri jauh
Musim-musim yang tak pernah ada
Jahat sekali karena kau bilang
Aku sama sekali belum mulai